Shopping Cart

Total Items:
SubTotal:
Tax Cost:
Shipping Cost:
Final Total:

Buku Terlaris

There was an error in this gadget

Peminat

Hak Cipta Milik Allah Ta'ala, Hak Izin Pada Kutubooku. Powered by Blogger.

Harga: Rp. 40.000,-
Hubungi: 085885753838

Pendahuluan
Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami, barangsiapa yang Allah beri petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan juga Rasul-Nya.
Dan Allah telah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada- Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. ( surat Ali Imron ayat 102 )
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. ( surat An Nisa ayat 1 )
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ يَا فَوْزًا عَظِيمًا
   “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta'ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. ( surat Al Ahzab ayat 70-71 )
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wasalam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, setiap apa yang diada-adakan dalam masalah agama adalah bid'ah dan setiap bidah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya adalah neraka.
Amma ba’du
Kita besyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang begitu banyak, baik yang tampak maupun yang tidak, sehingga jika kita hendak menghitungnya niscaya tidak akan mampu, sebagimana disebutkan dalam Al Quran Allah berfirman;
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni'mat Allah). Ibrahim (34) 
Firman Allah ini menerangkan kepada kita bahwa tidak akan mungkin manusia itu mampu untuk menghitung nikmat Allah. Tentunya manusia yang masih mempunyai akal pikiran yang sehat dia akan mengakui hal ini. Allah sudah menciptkan kita, memberi rizki, memberi makan, mengatur dan memberikan yang lainnya, kita diberi nikmat berupa umur, waktu longgar, kekayaan dan kemudahan yang banyak, pantaslah kalau Allah menyuruh kita untuk besyukur kepadaNya, Allah berfirman dalam ayatnya;
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
“’Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni'mat)-Ku’ ( Al Baqarah: 152)
Allah menyuruh kepada manusia untuk bersyukur dan melarang dari perbuatan kufur dari apa yang Allah berikan. Namun pada kenyataannya banyak dari kalangan manusia yang ingkar dengan nikmatNya, mereka diberi umur panjang malah mereka gunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Mereka diberi kekayaan dan rizki yang banyak mereka malah lalai dari beribadah kepadaNya, diberi kesehatan dia tidak menggunakannya untuk berdiri melaksanakan ibadah kepada Allah, inilah sifat jeleknya manusia.
Apalagi kalau kita lihat pada zaman sekarang, manusia banyak yang sudah lupa dengan aturan hidup, lalai dengan agamanya, lalai dengan syariat Islam, mereka mengorbankan agamanya hanya demi mencapai kehidupan dunia semata. Kalau kita melihat kenyataan yang ada di depan mata, maka bagi orang yang masih mempunyai keimanan dan ketaatan kepada Allah maka akan merasa bersedih kenapa mereka berbuat seperti itu.
Para pemudanya yang menjadi harapan masa depan sudah rusak, minum minuman keras, pergaulan bebas, hura-hura, laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya berduaan berjalan bergandengan tangan itu suatu hal yang sudah biasa dan tidak asing lagi dan lain sebagainya yang mungkin kalau disebutkan semua membutuhkan banyak halaman buku untuk menuliskannya.
Mereka menamakan semuanya itu dengan nama yang keren, gaul dan lain sebagainya. Padahal pemuda sekarang adalah generasi yang akan datang, tulang punggung negara, terlebih lagi mereka adalah harapan agama untuk meneruskan dan melaksanakan syariat Allah. Bagaimana keadaan yang akan datang apabila generasinya mempunyai aqidah yang tidak bagus, keimanan yang lemah, semangat yang kurang ? Tentunya musuh Islam akan lebih gampang menghancurkan kita.
Kenyataan inilah yang kita lihat saat ini, oleh sebab itu, hati kita terasa sedih, air mata bercucuran melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekeliling kita, tangan ini tergerak dan ingin rasanya untuk menulis suatu nasehat untuk diri penulis sendiri dan juga saudara-saudaraku semuannya kaum muslimin yang ada di Indonesia khususnya dan di seluruh pendjuru dunia. Tentunya nasehat ini bukan semata-mata dari penulis sendiri, tapi ini semua adalah dari Allah yang telah menciptankan kita, yang tentunya lebih mengetahui tentang hamba-Nya. Demikian juga dari Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam yang menjadi tuntunan kita, dan juga nasehat dari para ulama kita yang berpegang teguh dengan Al Quran dan sunnah yang benar. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits, kalau kita melihat kemungkaran maka kita disuruh berusaha semampu kita untuk menghilangkan kemungkaran itu, baik itu dengan tangan bagi yang mampu atau dengan lisan dan perkataan, demikian juga dengan hati untuk mengingkarinya. Nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi wa salam bersabda;
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ [رواه مسلم]
Dari Abu Sa'id Al Khudri berkata dia mendengar dari Rasululloh beliau bersabda; "Barang siapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia merubahnya (mencegahnya) dengan tangannya (kekuasaannya) ; jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya (menasihatinya) ; dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju) , dan demikian itu adalah selemah-lemah iman" (hadits riwayat Muslim; kitabul iman; 49 Tirmidzi; 2172.
Perhatikan bagaimana tuntunan kita memberikan cara berdakwah, dan cara untuk menghilangkan kemungkaran, yaitu dengan kekuatan tangannya bagi yang bisa untuk melaksanakannya seperti misalnya orang tua yang melihat kemungkaran pada anaknya, atau pemerintah pada masyarakatnya. Kalau dengan tangan dia tidak mampu untuk merubahnya mungkin karena tidak mempunyai kekuatan maka dia menghilangkan kemungkaran itu dengan lisan, dengan menasehatinya, mengajarkan sesuatu kepadanya, memberi pengetahuan bahwa apa yang ia lakukan adalah dilarang Agama.
Tentunya nasehat itu dengan lemah lembut dan penuh hikmah. Yang terakhir kalau seseorang tidak mampu dengan tangan dan juga lisannya maka tetap wajib baginya untuk merubah kemungkaran itu minimal dengan hatinya. Mengingkari dengan hati bukan berarti kita senang dengan maksiat itu. Kita merasa benci melihat kemungkaran itu. 



You may also be interested in the following product(s)

If you enjoyed this article, subscribe to receive more great content just like it. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 comments for "Ingat Lima Perkara Sebelum Lima Perkara"

Leave a reply